Skip to content

Museum Bank Indonesia

April 2, 2013

Image

Museum Bank Indonesia yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara 3 Jakarta Barat, berada di sebelah Museum Bank Mandiri. Keberadaan Museum Bank Indonesia dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang peran Bank Indonesia sebagai bank sentral dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia .

Sejarah Museum Bank Indonesia dilandasi keinginan pihak Bank Indonesia memberikan pengetahuan yang memadai kepada masyarakat tentang peran Bank Indonesia  bagi bangsa Indonesia dan dukungan terhadap pemerintah DKI Jakarta dalam pengembangan kawasan kota tua menjadi daerah tujuan wisata, yang mana Bank Indonesia memiliki bangunan yang terletak pada kawasan kota tua dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Gagasan lainnya yang mengilhami berdirinya Museum Bank Indonesia adalah museum bank sentral negara – negara di dunia.

Sejarah Gedung Museum Bank Indonesia merupakan bekas rumah sakit bernama Binnen Hospital. De Javasche Bank (DJB) menggunakan gedung sejak tanggal 08 April 1828. Tahun 1910, De Javasche Bank (DJB) membangun kembali gedung dengan lima tahap pembangunan yang perancangan bangunan dilakukan oleh Biro Arsitek Ed. Cuypers & Hulswit yang kemudian berubah menjadi Architecten & Ingenieursbureau Fermont-Cuypers. Bangunan ini bergaya neo-klasikal yang dapat dilihat dari:

  • Bentuk yang simetris
  • Tiang tinggi kolom yang menjulang sampai atap bangunan

 Image

  • Pedimen segitiga

 Image

  • Atap berkubah

 

Museum Bank Mandiri, namun terlihat lebih anggun, lebih bersih dan bercita rasa tinggi di dalam gedungnya khas klasik simetris dengan muka utama dan dua sayap yang mengapit. Arsitektur bangunan mendekati prinsip-prinsip klasik modern. Gedung-gedung neoklasik memiliki banyak (meskipun tidak selalu semua) fitur atau cirri-ciri ini:

Bank Indonesia berasal dari NV. De lavasche Bank, sebuah bank swasta Belanda yang mendapat hak octuvi untuk bertindak sebagai bank sentral dan disirkulasi di Hindia Belanda (tahun 1928). Dengan UU Pokok Bank Indonesia yang mulai berlaku 1 Juli 1953, NV. De Javasche Bank diganti dengan “Bank Indonesia” dan seluruh saham-sahamnya menjadi milik Pemerintah Republik Indonesia.

Tahun 1910 pembangunan tahap pertama dimulai dan selesai pada tahun 1912, bangunan gedung bergaya arsitektur neoklasik Eropa yang terletak di sepanjang jalan Binneninieuwpoorstraat atau sekarang dikenal dengan Jalan Pintu Besar Utara.

Tahun 1922 pembangunan tahap kedua dimulai dengan menambah beberapa ruangan baru seperti rumah penjaga gedung (concierge), ruang simpan barang berharga (kluis), ruang pertemuan besar (ruang hijau), ruang arsip, garasi, dan ruangan lainnya.

Tahun 1924 pembangunan tahap ketiga dilakukan. Pembangunan tahap ketiga merupakan perluasan dari tahap sebelumnya dengan membangun sebuah unit di bagian belakang sepanjang Kali Besar menggantikan bangunan tua bekas rumah sakit. Dibuat juga bangunan di sepanjang Javabankstraat atau sekarang dikenal dengan jalan Bank, yang bertemu dengan bangunan tahap pertama di sisi utara. Bangunan yang baru dibangun ini memiliki kaca patri, dengan ragam hias berupa komoditas perdagangan pada masa Hindia Belanda dan dewa-dewi Yunani yang indah.

Tahun 1933 pembangunan tahap keempat dilaksanakan memenuhi kebutuhan ruang hasanah yang lebih luas dan ruang efek-efek. Dalam pembangunan tahap keempat, Biro Arsitek Fermont-Cuypers mendesain beberapa unit tambahan yaitu beberapa kluis baru yang ditempatkan pada perpanjangan bangunan di sisi Binneninieuwpoorstraat (Jalan Pintu Besar Utara). Pembanguan termasuk renovasi yang dilakukan pada bagian depan disisi jalan yang sama dengan gaya yang lebih sederhana.

Tahun 1935 pembangunan tahap kelima dilakukan dan diresmikan pada tanggal 12 Juni 1937. Tujuan pembangunan tahap kelima untuk memodernisasi arsitektur pembangunan tahap – tahap sebelumnya. Perubahan yang dilakukan diantaranya menggantikan dua pintu gerbang sebelumnya menjadi satu pintu untuk keluar-masuk. Perubahan yang lainnya seperti menghilangkan kubah yang sebelumnya menghiasi atap gedung bangunan. Setelah pembangunan ini, tidak banyak lagi perubahan yang dilakukan terhadap gedung.

Koleksi Museum Bank Indonesia terdiri dari koleksi uang – uang logam dan kertas. koleksi film seperti pengerahan dana masyarakat 1953 – 1959, nasionalisasi bank-bank Belanda, pengedaran uang 1953 – 1959, penyelenggaraan kliring hingga 1959, dewan moneter menurut UU No. 11/1953, sistem kebijakan devisa 1953 – 1959. koleksi benda perbankan seperti mesin hitung Ontel REMINGTON 77, mesin tik ROYAL, khazanah harian LIPS, lemari brankas LIPS, ruang brankas (pintu besi) arsek, mesin PTTB tanda bintang RUHAAK, ukiran kayu dengan pepatah Belanda, alat pelubang kupon/deviden, timbangan emas, dan loleksi lainnya.

Adapun fasilitas museum Bank Indonesia seperti ruang penitipan barang, pusat informasi tentang Bank Indonesia, ruang auditorium, kios buku dan cenderamata, banking expo, ruang serbaguna, café museum, fine Dining restaurant, perpustakaan, ruang ibadah (Masjid).

 

Sumber:

http://thearoengbinangproject.com

http://www.jakarta.go.id

http://jakartaoke.blogspot.com

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: